Halo! Thanks God..sudah sampai setengah perjalanan untuk program matrikulasi batch#3 ini, jujur tidak mudah bagi saya bisa melangkah sampai sejauh ini mengingat saya termasuk silent reader di grup WA IIP, udah gitu seringkali harus manjat ratusan chat karena tidak sempat baca secara beberapa bulan ini sering banget ditinggal suami untuk dinas luar sehingga harus ngurus 2 orang anak yang masih kecil sendirian. Waktu untuk baca dan ngerjain tugas NHW paling bisa ya diatas jam 21.00 saat anak-anak sudah tidur dan pekerjaan rumah sudah selesai. Bersyukurnya di IIP kita bisa minta dispensasi waktu untuk ngumpulin tugas, ini kali kedua saya minta dispensasi karena sudah benar-benar kewalahan..Many thanks buat kebijakan ini dan para korming (koordinator mingguan) yang selalu sigap membantu para peserta.
Ok, ini dia tugas di NHW#5 (Bagaimana caranya belajar-Learning How to Learn) :PRAKTEK MEMBUAT DESIGN PEMBELAJARAN ALA KITA.
Kami memilih Homeschooling atau metode pendidikan berbasis keluarga sebagai cara keluarga kami untuk mendidik anak-anak kami, dengan demikian sudah seharusnya sebagai orang tua kami perlu melatih diri untuk terus belajar bahkan menjadi pembelajar. Belajar apa saja? Awalnya kami perbanyak ilmu parenting. Untuk parenting Kristen, salah satu yang kami pakai adalah materi Growing Kids Gods Way ( Membesarkan Anak dengan Cara Allah ) dan untuk parenting umum, salah satu yang kami favoritkan adalah Ayah EDI.
Dalam proses homeschooling anak kami Jojo (yang ke-2 soalnya masih baby), kami mendapati diri kami lah yang perlu banyak belajar. Kami perlu bertumbuh untuk menolong anak kami juga bertumbuh. Banyaknya ilmu parenting yang kami pelajari juga tidak menjamin bahwa kami akan berhasil mendidik anak -anak kami, melainkan tekad untuk terus memperbaiki diri, kesadaran bahwa kami tidak bisa menggantungkan harapan kami pada ilmu-ilmu parenting semata melainkan bergantung penuh pada sang Pemilik anak-anak kami. Kami terbatas memahami anak-anak, tetapi Dia tidak terbatas, dan mengenal anak-anak kami jauuuuh lebih dari kami mengenal mereka.
Secara pribadi hal yang paling saya nikmati dari proses Homeschooling keluarga kami adalah kesempatan untuk bertumbuh bersama anak. Saya senang membiarkan anak-anak tahu bahwa kami juga terus berjuang menjadi orang tua yang baik buat mereka, biarkanlah mereka tahu bagaimana jatuh bangunnya kami, perjuangan kami (khususnya saya sebagai ibu) menjadi ibu yang lebih sabar. Saya tidak berusaha menjaga image saya dihadapan anak-anak untuk pura-pura bisa segalanya, saya terbuka dengan kekurangan-kekurangan saya.
2 (dua) garis besar pembelajaran dalam proses homeschooling keluarga kami :
1. Belajar karakter. Mengapa? karena minat dan bakat tidak ada artinya jika tidak dilandasi dengan karakter yang baik. Saat terbaik untuk belajar menanamkan karakter adalah di usia dini, sebab anak-anak lebih mudah dibentuk dibandingkan saat usia mereka sudah lebih besar.
2. Minat dan bakat. Kami bersyukur, sejak awal minat dan ketertarikan anak kami pada aktivitas menggambar sudah terdeteksi sejak awal (kira-kira saat usia 2 tahun), sejujurnya kami sendiri tidak sengaja menemukannya :) Saya masih ingat saat itu suami saya sering menggambar lingkaran di selembar kertas kosong didepan Jojo, eeee..lama-lama jojo senang sekali menggambar lingkaran, meskipun awalnya lingkaran kusut hehehehe..dari lingkaran, dia jadikan ban mobil, lalu jadi mobil,dst..dst..sampai kemudian kemampuan menggambarnya terus meningkat. Kami mengabadikan portofolio karya Jojo disini
Proses homeschooling dalam keluarga kami penuh dinamika, saat ini sejujurnya saya merasa memasuki saat-saat yang sulit sebab beberapa bulan terakhir suami sering dinas luar berhari-hari padahal sejak punya baby suami sayalah yang lebih banyak mendampingi Jojo belajar. Sejujurnya kami keteteran. Saat saya menulis tugas inipun suami sedang tidak di Solo. Tapi bersyukur sekali karena kami sama-sama se visi tentang HS anak kami, maka di tengah-tengah kerepotan-kerepotan yang ada, kami berusaha untuk mengevaluasi dan membuat langkah-langkah antisipasi untuk mengurangi kerepotan dan kelelahan saya yang ditinggal dirumah, sbb :
1. TV kami hidupkan kembali (setelah hampir 2 bulan ) kami hidup tanpa siaran TV. Supaya Jojo tidak terlalu bosan saat saya mengurus adiknya yang masih berusia 8 bulan, terutama saat menidurkan. Syukurnya Jojo tidak terlalu terpaku pada TV yaa..mungkin karena sudah terpola 2 bulan terakhir ini, TV cuma dinyalain supaya tidak terasa sepi, biar ada suara-suara aja :)
2. Papa bikin jadwal aktivitas Jojo selama ditinggal, tugas saya memastikan jadwalnya terlaksana. Penampakannya seperti ini :
Tugas dari papa yang dibuat dengan tulisan tangan papanya sendiri ini cukup ampuh membuat mata Jojo berbinar-binar, mengobati kangennya sebab hari pertama papanya pergi dia ngamuk-ngamuk tidak rela ditinggal (11 hari bo'...) mungkin serasa disuratin sama papanya yaa..heehe..
di hari ke 2 ini jadwalnya agak amburadul hikks...karena Junior (adik Jojo) meler2 mo pilek padahal malamnya saya sudah kurang tidur momong,akhirnya saya biarkan saja semuanya mengalir apa adanya wis..Jojo ku bebasin aja mo ngapain.
Saya sadar jawaban tugas NHW #5 ini belum maksimal. Tapi inilah kondisi kami sekarang, dan inilah yang bisa kami lakukan untuk saat ini.
Inilah dinamika kami sekarang dalam membuat design pembelajaran keluarga kami. Mo bikin design buat diri sendiri belum sempat..buat anak dulu aja...next yaaa..:D
Ok, ini dia tugas di NHW#5 (Bagaimana caranya belajar-Learning How to Learn) :PRAKTEK MEMBUAT DESIGN PEMBELAJARAN ALA KITA.
Kami memilih Homeschooling atau metode pendidikan berbasis keluarga sebagai cara keluarga kami untuk mendidik anak-anak kami, dengan demikian sudah seharusnya sebagai orang tua kami perlu melatih diri untuk terus belajar bahkan menjadi pembelajar. Belajar apa saja? Awalnya kami perbanyak ilmu parenting. Untuk parenting Kristen, salah satu yang kami pakai adalah materi Growing Kids Gods Way ( Membesarkan Anak dengan Cara Allah ) dan untuk parenting umum, salah satu yang kami favoritkan adalah Ayah EDI.
Dalam proses homeschooling anak kami Jojo (yang ke-2 soalnya masih baby), kami mendapati diri kami lah yang perlu banyak belajar. Kami perlu bertumbuh untuk menolong anak kami juga bertumbuh. Banyaknya ilmu parenting yang kami pelajari juga tidak menjamin bahwa kami akan berhasil mendidik anak -anak kami, melainkan tekad untuk terus memperbaiki diri, kesadaran bahwa kami tidak bisa menggantungkan harapan kami pada ilmu-ilmu parenting semata melainkan bergantung penuh pada sang Pemilik anak-anak kami. Kami terbatas memahami anak-anak, tetapi Dia tidak terbatas, dan mengenal anak-anak kami jauuuuh lebih dari kami mengenal mereka.
Secara pribadi hal yang paling saya nikmati dari proses Homeschooling keluarga kami adalah kesempatan untuk bertumbuh bersama anak. Saya senang membiarkan anak-anak tahu bahwa kami juga terus berjuang menjadi orang tua yang baik buat mereka, biarkanlah mereka tahu bagaimana jatuh bangunnya kami, perjuangan kami (khususnya saya sebagai ibu) menjadi ibu yang lebih sabar. Saya tidak berusaha menjaga image saya dihadapan anak-anak untuk pura-pura bisa segalanya, saya terbuka dengan kekurangan-kekurangan saya.
2 (dua) garis besar pembelajaran dalam proses homeschooling keluarga kami :
1. Belajar karakter. Mengapa? karena minat dan bakat tidak ada artinya jika tidak dilandasi dengan karakter yang baik. Saat terbaik untuk belajar menanamkan karakter adalah di usia dini, sebab anak-anak lebih mudah dibentuk dibandingkan saat usia mereka sudah lebih besar.
2. Minat dan bakat. Kami bersyukur, sejak awal minat dan ketertarikan anak kami pada aktivitas menggambar sudah terdeteksi sejak awal (kira-kira saat usia 2 tahun), sejujurnya kami sendiri tidak sengaja menemukannya :) Saya masih ingat saat itu suami saya sering menggambar lingkaran di selembar kertas kosong didepan Jojo, eeee..lama-lama jojo senang sekali menggambar lingkaran, meskipun awalnya lingkaran kusut hehehehe..dari lingkaran, dia jadikan ban mobil, lalu jadi mobil,dst..dst..sampai kemudian kemampuan menggambarnya terus meningkat. Kami mengabadikan portofolio karya Jojo disini
Proses homeschooling dalam keluarga kami penuh dinamika, saat ini sejujurnya saya merasa memasuki saat-saat yang sulit sebab beberapa bulan terakhir suami sering dinas luar berhari-hari padahal sejak punya baby suami sayalah yang lebih banyak mendampingi Jojo belajar. Sejujurnya kami keteteran. Saat saya menulis tugas inipun suami sedang tidak di Solo. Tapi bersyukur sekali karena kami sama-sama se visi tentang HS anak kami, maka di tengah-tengah kerepotan-kerepotan yang ada, kami berusaha untuk mengevaluasi dan membuat langkah-langkah antisipasi untuk mengurangi kerepotan dan kelelahan saya yang ditinggal dirumah, sbb :
1. TV kami hidupkan kembali (setelah hampir 2 bulan ) kami hidup tanpa siaran TV. Supaya Jojo tidak terlalu bosan saat saya mengurus adiknya yang masih berusia 8 bulan, terutama saat menidurkan. Syukurnya Jojo tidak terlalu terpaku pada TV yaa..mungkin karena sudah terpola 2 bulan terakhir ini, TV cuma dinyalain supaya tidak terasa sepi, biar ada suara-suara aja :)
2. Papa bikin jadwal aktivitas Jojo selama ditinggal, tugas saya memastikan jadwalnya terlaksana. Penampakannya seperti ini :
Tugas dari papa yang dibuat dengan tulisan tangan papanya sendiri ini cukup ampuh membuat mata Jojo berbinar-binar, mengobati kangennya sebab hari pertama papanya pergi dia ngamuk-ngamuk tidak rela ditinggal (11 hari bo'...) mungkin serasa disuratin sama papanya yaa..heehe..
di hari ke 2 ini jadwalnya agak amburadul hikks...karena Junior (adik Jojo) meler2 mo pilek padahal malamnya saya sudah kurang tidur momong,akhirnya saya biarkan saja semuanya mengalir apa adanya wis..Jojo ku bebasin aja mo ngapain.
Saya sadar jawaban tugas NHW #5 ini belum maksimal. Tapi inilah kondisi kami sekarang, dan inilah yang bisa kami lakukan untuk saat ini.
Inilah dinamika kami sekarang dalam membuat design pembelajaran keluarga kami. Mo bikin design buat diri sendiri belum sempat..buat anak dulu aja...next yaaa..:D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar